Mengasuh Anak Secara Adil: Bagaimana Kesetaraan Gender Membentuk Keluarga Bahagia

Mengasuh Anak Secara Adil: Bagaimana Kesetaraan Gender Membentuk Keluarga Bahagia

Penulis: Dra. Sugiarti, M.Kes, Psikolog

Gender berbicara tentang bagaimana masyarakat memandang dan menetapkan peran laki-laki dan perempuan. Bukan sesuatu yang bersifat bawaan, gender adalah hasil dari pandangan sosial yang membedakan posisi dan hak antara pria dan wanita. Diskriminasi gender, yang sudah lama menjadi masalah di seluruh dunia, menciptakan ketidaksetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini memicu berbagai upaya untuk mengatasi kesenjangan dan mencapai kesetaraan gender di semua bidang, terutama dalam kehidupan Masyarakat (Judiasih, 2022). Gender merujuk pada perbedaan dalam peran, atribut, sifat, sikap, dan perilaku yang berkembang lalu terbentuk dalam masyarakat. Peran gender dibagi menjadi tiga kategori utama: peran produktif, peran reproduktif, dan peran sosial kemasyarakatan. Sementara itu, jenis kelamin merujuk pada kondisi fisik yang dimiliki seseorang secara biologis sejak lahir.

Pada hubungan antar gender, kita seharusnya memandang lawan jenis sebagai sesama manusia dengan penuh penghargaan, menyadari bahwa setiap individu memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Ini berarti kita menerima dan menghargai perbedaan tersebut, serta memahami bahwa setiap orang membawa nilai dan kontribusi ke dalam hubungan kita. Dengan cara ini, kita menciptakan lingkungan yang saling mendukung dan mengakui kualitas serta keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masing pihak.

Pemerintah Indonesia berkomitmen mencapai target Sustainable Development Goals (SDG’S) pada tahun 2030 dengan menetapkan prinsip “No One Left Behind” dengan maksud negara harus memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat—termasuk laki-laki, perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, lansia, dan kelompok rentan lainnya—dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan dan merasakan manfaatnya.

Isu gender menjadi salah satu fokus utama dalam pembangunan, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia. Meskipun pemerintah telah berupaya secara signifikan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan memperkuat kelembagaan dalam mengarusutamakan gender, data terkini masih menunjukkan adanya kesenjangan yang nyata antara perempuan dan laki-laki. Kesenjangan ini terlihat dalam berbagai aspek seperti akses, partisipasi, kontrol, manfaat, dan penguasaan sumber daya. Bidang-bidang seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya, hingga kehidupan berkeluarga.

Akibat dari Ketidaksetaraan Gender Dalam Mendidik Anak

Kesenjangan gender tetap menjadi isu utama di Indonesia, dan masalah ini sangat kompleks. Kendala dalam mencapai kesetaraan gender sering kali disebabkan oleh situasi budaya dan sosial yang masih menganut nilai-nilai patriarki di beberapa daerah. Dalam konteks ini, terdapat anggapan bahwa perempuan sebaiknya fokus pada pengasuhan anak dan pengelolaan rumah tangga, sementara laki-laki, yang dianggap sebagai pencari nafkah, tidak perlu terlibat dalam urusan rumah tangga. Hal ini tidak hanya memengaruhi pola asuh orang tua terhadap anak perempuan tetapi juga berdampak pada rendahnya ekspektasi sosial terhadap perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Pandangan bahwa posisi perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki menciptakan pola pikir yang mendalam tentang hierarki gender. Kebijakan-kebijakan yang ada juga sering kali mencerminkan ketidakadilan struktural yang menghambat kemajuan menuju kesetaraan gender.

Salah satu indikasi yang terlihat jelas dalam msyarakat adalah budaya patriarki. Patriarki berasal dari kata patriarkat, berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya (Rokhmansya, 2016). Hal tersebut dapat menjadi salah satu penyebab tingginya prevalensi kekerasan rumah tangga dalam bentuk fisik, psikologis, seksual, dimensi ekonomi, dan relasi personal. Kasus-kasus kekerasan tersebut juga tidak hanya mencerminkan ketidaksetaraan kekuasaan di dalam rumah tangga, tetapi juga menggarisbawahi dampak merugikan bagi pertumbuhan anak.

Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk menerapkan nilai-nilai kesetaraan gender dalam mendidik anak-anak sejak dini. Dengan memperkenalkan konsep kesetaraan dan keadilan dalam pendidikan, diharapkan generasi mendatang dapat tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menghargai dan memperlakukan setiap individu secara setara, tanpa memandang gender.

 

Pentingnya Kesetaraan Gender dalam Pengasuhan Anak

Seorang anak memerlukan pengasuhan, bimbingan, dan dukungan emosional dari kedua orang tua untuk perkembangan fisik, sosial, dan emosional mereka. Kehadiran anak juga mempengaruhi dinamika dan struktur keluarga, serta berkontribusi pada penerusan nilai, tradisi, dan norma keluarga. Kesetaraan gender berperan dalam pengasuhan anak memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan anak dan dinamika keluarga secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kesetaraan gender dalam pengasuhan anak itu penting:

  1. Perkembangan Anak yang Lebih Baik: Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dari kedua orangtua dalam pengasuhan anak berhubungan langsung dengan hasil yang lebih baik dalam perkembangan anak, baik secara akademis maupun emosional. Anak-anak yang melihat kedua orangtua terlibat dalam perawatan dan pendidikan mereka cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi, kemampuan sosial yang lebih baik, dan keterampilan pemecahan masalah yang lebih kuat
  1. Pembelajaran Nilai Kesetaraan: Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan di mana tanggung jawab pengasuhan dibagi secara adil belajar tentang pentingnya kesetaraan dan kerjasama. Mereka memahami bahwa peran dan tanggung jawab di rumah tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh kebutuhan dan situasi keluarga.
  1. Keseimbangan Keluarga: Ketika kedua orangtua secara aktif terlibat dalam pengasuhan anak, beban pekerjaan rumah tangga dan perawatan anak tidak hanya terpusat pada satu orang. Ini membantu mencegah kelelahan dan stres yang sering dialami oleh orangtua, terutama ibu, dan menciptakan lingkungan keluarga yang lebih harmonis.

Langkah Mewujudkan Kesetaraan Gender dalam Mendidik Anak

Penerapan prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam proses mendidik anak di mana tanggung jawab dan peran pengasuhan dibagi secara adil antara kedua orangtua.Hal ini untuk memastikan bahwa baik ibu maupun ayah terlibat secara setara dalam berbagai aspek mendidik anak. Berikut merupakan Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam mendidik anak:

  1. Pembagian Tugas yang Adil: Memastikan bahwa tugas-tugas pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga dibagi secara merata antara kedua orangtua adalah langkah awal yang penting. Ini mencakup tanggung jawab seperti memberi makan, mengganti popok, membantu pekerjaan rumah, dan mengantar anak ke kegiatan ekstrakurikuler. Pembagian tugas yang adil tidak hanya membantu meringankan beban, tetapi juga memastikan bahwa kedua orangtua berperan aktif dalam kehidupan anak.
  1. Komunikasi Terbuka dan Jujur: Komunikasi yang terbuka antara pasangan sangat penting untuk mencapai kesetaraan gender dalam pengasuhan. Diskusikan harapan, tanggung jawab, dan tantangan yang dihadapi secara terbuka. Mendengarkan satu sama lain dan mencari solusi bersama dapat membantu mengatasi konflik dan memastikan bahwa beban pengasuhan dibagi dengan adil.
  2. Menghilangkan Stereotip Gender: Penting untuk mendidik anak-anak tentang kesetaraan gender dan menantang stereotip yang ada. Ajari anak-anak bahwa pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab keluarga tidak hanya tugas perempuan atau laki-laki, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Ini membantu membentuk pandangan yang lebih inklusif dan adil tentang peran gender.
  3. Dukungan dari Tempat Kerja: Dukungan dari tempat kerja juga memainkan peran krusial dalam mewujudkan kesetaraan gender dalam pengasuhan. Kebijakan seperti cuti orangtua yang fleksibel dan adil untuk kedua orangtua, serta lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan kerja-hidup, dapat membantu memastikan bahwa tanggung jawab pengasuhan tidak hanya menjadi beban bagi salah satu pihak.
  4. Menjadi Teladan: Orangtua harus menjadi contoh nyata dalam menerapkan kesetaraan gender. Dengan menunjukkan sikap adil dan berbagi tanggung jawab secara setara, orangtua memberikan contoh langsung kepada anak-anak mereka tentang bagaimana kesetaraan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini membantu anak-anak memahami dan menghargai prinsip kesetaraan.
  5. Mendukung Kesejahteraan Orangtua: Kesejahteraan orangtua juga penting untuk menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. Program dukungan seperti konseling keluarga, kelompok dukungan orangtua, dan sumber daya kesehatan mental dapat membantu orangtua mengelola stres dan menjaga keseimbangan dalam peran pengasuhan mereka.

Kesetaraan gender dalam pengasuhan anak adalah langkah penting menuju penciptaan keluarga yang lebih adil dan bahagia. Dengan melakuan pembagian tanggung jawab pengasuhan secara adil, berkomunikasi terbuka, menantang stereotip gender, menjadi teladan yang baik, menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak dan memperkuat prinsip kesetaraan. Pada akhirnya, kesetaraan gender dalam pengasuhan bukan hanya tentang keadilan bagi kedua orangtua, tetapi juga tentang memberikan anak-anak kesempatan terbaik untuk berkembang dalam masyarakat yang adil.

Referensi :

Rokhmansyah, A. (2016): Pengantar Gender Feminisme Pemahaman Awal Kritik Sastra Feminisme. Yogyakarta: Garudhawaca.

Judiasih, S.,D. (2022): Implementasi Kesetaraan Gender Dalam Beberapa Aspek Kehidupan Bermasyarakat Di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 5(2). Sugiarti.(20

Musabiq Sugiarti (2019):Deteksi Tumbuh Kembang Anak Usia Prasekolah. Rajagrafindo Persada, Depok

Artikel Terkait