Pentingnya Menumbuhkan Self-worth pada Anak Sedini Mungkin

Pentingnya Menumbuhkan Self-worth pada Anak Sedini Mungkin
Dra. Sugiarti, M.Kes, Psikolog

 

            Self-worth penting untuk dimiliki setiap individu. Menurut Baumeister, Champbell, Krueger, dan Vohs (2003) self-worth didefinisikan sebagai tingkat penilaian individu terkait seberapa berharga dirinya sendiri. Individu dengan self-worth yang tinggi akan menjadi individu yang memandang bahwa dirinya cukup baik. Persepsi seberapa baik dan tidaknya seseorang akan berpengaruh pada internal dan eksternal diri. Self-worth yang tinggi juga terbukti memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan (Baumeister dkk, 2003), kepuasan hidup dan well-being (Proctor, Linley, & Maitby, 2009). Selanjutnya, rendahnya self-worth akan menjadi prediktor rendahnya kesehatan mental, perilaku kiminal, kesehatan fisik yang buruk, perilaku yang tidak konsisten, serta kondisi ekonomi yang kurang baik di masa depan (Sowislo & Orth, 2013). Sowislo dan Orth (2013) menjelaskan studi meta analisis yang telah dilakukannya dari 80 data penelitian longitudinal pada anak-anak hingga usia lansia, menyebutkan bahwa rendahnya self-worth berhubungan dengan berbagai masalah emosional, seperti depresi dan kecemasan.

            Dari beberapa periode penting perkembangan manusia, remaja merupakan periode yang paling sensitif terkait self-worth pada anak (Birkeland, Melkevik, Holsen, & Wold, 2012). Pada masa remaja, tinggi dan rendahnya self-worth akan nampak sebagai dampak dari pola asuh dengan orangtua. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa hubungan antara orangtua dan anak pada usia dini berhubungan dengan self-worth pada usia remaja. Hubungan orangtua dan anak yang dekat, saling mengepresikan kasih sayang, dan bentuk hubungan positif lainnya memiliki hubungan positif dengan tingginya tingkat self-worth pada anak. Tingginya self-worth yang dialami anak akan memperbesar peluang ia memiliki kesehatan mental yang baik ketika remaja (Kamkar, Doyle, & Markiwicz, 2012).

            Self-worth merupakan prinsip utama dan mendasar dari attachment relationship, anak-anak akan mengembangkan aspek Internalnya untuk merasa berharga dan dicintai, kemudian perasaan tersebut akan direfleksikan pada hubungan dengan lingkungannya. Kemudian self-worth pada anak akan mempengaruhi aspek alami dan kualitas diri anak (Ladd, 1992). Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi self-worth diprediksi oleh attachment security dalam hubungan dengan ibu dan ayah pada anak kelas SD.

            Persepsi self-worth pada anak turut berhubungan dengan keberfungsian psikososial pada middle childhood. Hasil penelitian Verschueren, Buyek, dan Marcoen (2001) menyebutkan bahwa anak kelas 5 SD yang memiliki persepsi diri positif akan memiliki penyesuaian diri dan kemandirian yang tinggi dibandingkan dengan anak seusia nya. Kemudian self-worth juga berhubungan dengan hubungan berteman, penyesuaian diri di sekolah, persepsi penerimaan sosial dan dukungan teman sekelas (Fordham &

Stevenson-Hind, 1999) serta berhubungan negatif dengan masalah tingkahlaku, kesepian dan kecemasan (Fordham & Stevenson-Hinde, 1999).

Daftar Pustaka

Baumeister, R.F., Campbell, J.D., Krueger, J.I., & Vohs, K.D. (2003). Does high self-esteem cause better performance, interpersonal success, happiness, or healthier lifestyles? Psychological Science in the Public Interest: A Journal of the American Psychological Society, 4, 1–44.

Birkeland, M.S., Melkevik, O., Holsen, I., & Wold, B. (2012). Trajectories of global self-esteem development during adolescence. Journal of Adolescence, 35, 43–54.

Fordham, K., & Stevenson-Hinde, J. (1999). Shyness, friendship quality, and adjustment during middle childhood. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines, 40, 757-768.

Kamkar, K., Doyle, A.-B., & Markiewicz, D. (2012). Insecure attachment to parents and depressive symptoms in early adolescence: Mediating roles of attributions and self-esteem. International Journal of Psychological Studies, 4, 3.

Ladd, G. W. (1992). Themes and theories: Perspectives on processes in family-peer relationships. In R. D. Parke & G. W. Ladd (Eds.). Family-peer relationships: Modes of linkage. (pp. 3-34). Hillsdale, NJ: Erlbaum.

Proctor, C.L., Linley, P.A., & Maltby, J. (2009). Youth life satisfaction: A review of the literature. Journal of Happiness Studies, 10, 583–630.

Sowislo, J.F., & Orth, U. (2013). Does low self-esteem predict depression and anxiety? A meta-analysis of longitudinal studies. Psychological Bulletin, 139, 213–240.

 

Verschueren, K., Buyck, P., & Marcoen, A. (2001). Self-representations and socioemotional competence in young children: A 3-year longitudinal study. Developmental Psychology, 37, 126-134.

Artikel Terkait