Gangguan Stres Akut (Acute Stress Disorder) Pada Penderita Asma

Gangguan Stres Akut (Acute Stress Disorder) Pada Penderita
Asma.

Penulis artikel: Dr. Sugiarti, M. Kes, psikolog.

Asma adalah suatu kondisi yang mana saluran udara tubuh menyempit dan membengkak serta dapat menghasilkan lendir berlebih. Hal ini dapat membuat sulit bernapas dan memicu batuk, suara siulan (mengi) saat mengeluarkan napas dan sesak napas (Mayo Clinic, 2020). Jadi, asma merupakan gangguan pernafasan yang berkaitan dengan adanya hambatan pada aliran udara, sehingga orang mengalami kesulitan dalam bernafas atau mengeluarkan suara berdecit ketika bernafas. Riset mengungkap bahwa kecemasan, rasa marah, depresi, dan rasa gembira yang berlebihan merupakan penyebab yang dominan pada sepertiga kasus asthma pada anak-anak. Hal tersbut menjadi penyebab yang kedua pada satu pertiga lainnya, dan tidak ada hubungannya sama sekali pada satu pertiga yang terakhir. Selain faktor psikologis, alergi, infeksi saluran pernafasan, dan polusi juga dipercaya sebagai penyebab gangguan assma (Neale, Davison & Haaga, 1996; Kaplan, Sadock & Grebb, 1994)
Tidak jelas mengapa beberapa orang terkena asma dan yang lainnya tidak, tetapi mungkin karena kombinasi faktor lingkungan dan faktor keturunan (genetik) (Mayo Clinic, 2020). Menurut Mayo Clinic (2020), Sejumlah faktor diperkirakan meningkatkan peluang seseorang terkena asthma, seperti memiliki kerabat sedarah dengan asma, seperti orang tua atau saudara kandung; memiliki kondisi alergi lain; kelebihan berat badan; perokok aktif maupun pasif; terpapar asap knalpot dan jenis polusi lainnya; terpapar bahan kimia. Dalam perspektif manifestasi klinis, asthma menyebabkan episode mengi berulang, sesak napas, rasa dada tertekan dan batuk, terutama pada malam hari atau dini hari (Global Initiative for Asthma, 2009). Prevalensi angka penderita asthma di Indonesia adalah sebesar 2.4% (Riset Kesehatan Dasar, 2018), sedangkan secara keseluruhan penderita asma di dunia tercatat 339 juta orang penderita asma (World Health Organization, 2020).

Penegakan Diagnosis.
Menurut Rahajoe et al., (2015), ada tiga tahap penegakan diagnosis, yaitu melalui :

  1. Anamnesis,  Batuk berulang, sesak nafas, dada tertekan, sputum, riwayat alergi pada penderita atau keluarga, variabilitas gejala, reversibilitas.
  2. Fisis, Mengi yang terdengar, tanda atopi, tanda alergi.
  3. Pemeriksaan penunjang, Uji fungsi paru, uji cukit kulit, eosinofil total darah, uji inflamasi saluran napas, uji provokasi bronkus

Menurut Mayo Clinic (2020), dokter dalam menegakkan diagnose asthma, akan memeriksa hidung, tenggorokan, dan saluran udara atas. Dokter akan dengan cermat mendengarkan nafas dengan stetoskop, dan melihat kulit sebagai tanda kondisi alergi. Selain itu, beberapa tes yang mungkin dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang yaitu spirometri,  es paru, tes menghirup nitric oxid.

  1. Perspektif Memahami Penyebab Gangguan Asma.
    Setiap perspektif atau pendekatan memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat penyebab dari berbagai gangguan fisik yang berkaitan dengan stres, termasuk asthma. Berikut ini berberapa sudut pandang, yaitu :
    Perspektif psikodinamik yang mendasarkan kepada asumsi bahwa gangguan fisik yang berkaitan dengan stress muncul sebagai akibat dari emosi-emosi yang ditekan (repress). Sesuatu yang ditekan akan menentukan organ tubuh mana yang akan terkena penyakit atau gangguan, sebagai contoh, orang yang menahan kemarahan akan berisiko menimbulkan risiko hipertensi (Neale, Davison & Haaga, 1996).
  2. Perspektif biologis merupakan somatic weakness model, yang berasumsi bahwa ada
    kaitan antara stress dan gangguan psikofisiologis, yang berhubungan dengan leamahnya organ individu. Faktor yang berasal dari biologis bisa bersifat genetis maupun riwayat penyakit yang disandang sebelumnya, yang menimbulkan kelemahan pada organ tertentu menjadi makin lemah, sehingga organ tersebut rentan dan mudah mengalami kerusakan Ketika individu tersebut dalam kondisi stres (Neale, Davison & Haaga, 1996).
  3. Perspektif kognitif dan tingkah laku menekankan pada bagaimana individu
    mempersepsi dan menanggapi ancaman dari lingkungan.Proses persepsi individu dapat menstimulasi system simpatetik dan produksi hormon stres. Timbulnya emosi negatif seperti perasaan kecewa, gagal, khawatir berisiko mengganggu sistem dalam tubuh terganggu yang bisa berakhir munculnya penyakit. (Neale, Davison & Haaga, 1996).

 

Efek Psikologis Asma.
Individu yang didiagnosis penyakit kronis cenderung sulit menerima keadaan dirinya (Utami, 2013). Demikian juga asma dapat mengurangi kepercayaan diri individu karena adanya perubahan fisik. Asma juga dapat menimbulkan kecemasan, depresi, takut, merasa diri berbeda dengan individu lain, ketidakberdayaan, ketidakbebasan, terbebani secara finansial, merasa terikat karena harus rutin minum obat, dan khawatir merepotkan keluarga (Cutetomatto, 2012). Hal-hal tersebut dapat menimbulkan stres, sehingga sakit yang dialami oleh individu menjadi bertambah parah dan prognosis menjadi buruk (Cahyani, 2013).
Orang dengan asma kadangkala memiliki kebutuhan dependensi yang cukup besar, namun hingga saat ini belum dapat digolongkan dalam tipe kepribadian tertentu. Pada suatu riset diketahui bahwa para penderita asma secara tidak mereka sadari ternyata memiliki harapan untuk mendapatkan perlindungan dari ibu atau individu yang dipandang sebagai ibu. Figur ibu tersebut memiliki kecenderungan terlalu melindungi, perfeksionis, mendominasi, namun bersedia menolong orang lain. Ketika perlindungan yang mereka cari tersebut tidak ia dapatkan, biasanya serangan asthma muncul (Neale, Davison & Haaga, 1996).

Faktor Psikologis Asma.
Banyak riset-riset yang membahas masalah asma. Berdasarkan riset Baiardini et al., (2015) menemukan bukti bahwa hubungan antara asma, dalam hal keparahan dan control, dengan beberapa aspek psikologis seperti persepsi subjektif, alexithymia, dan gaya koping, serta kesehatan mental, baik soal kecemasan, maupun depresi. Menurut Jassens et al., (2009) persepsi gejala subjektif yang buruk dapat mengakibatkan penggunaan obat pereda yang signifikan secara berlebihan, terlepas dari fungsi paru-paru, sedangkan persepsi yang kurang menunjukkan potensi risiko pengobatan yang tertunda. Dalam temuan Jassens et.al (2009), persepsi merupakan faktor kunci yang relevan dalam pengelolaan kondisi kronis asthma.
Keakuratan persepsi gejala tergantung pada berbagai variabel kognitif dan afektif, seperti keadaan emosi, pengalaman hidup sebelumnya, atribusi, informasi kontekstual, proses perhatian dan pembelajaran, ekspektasi dan pengalaman asthma sebelumnya, ciri-ciri kepribadian, dan gangguan psikopatologis. Semua faktor ini dapat memengaruhi persepsi gejala dispnea dan asthma, seringkali tidak tergantung pada obstruksi aliran udara. Banyak pasien asthma belajar mengasosiasikan situasi negatif dan tekanan emosional dengan kesulitan bernapas . Sebagai dampak dari penghayatannya terhadap situasi negatif, penderita asthma berisiko merasakan dispnea secara berlebihan (Lurie et al., 2007).

Berbicara soal asma, tidak terlepas dengan pembahasan istilah alexithymia, dalam arti (1) penderita asma mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi perasaan dan membedakan antara perasaan dan sensasi tubuh;  (2) kesulitan dalam menggambarkan perasaan;  (3) penghayatan proses imajinatif yang terbatas; dan  (4) gaya kognitif berorientasi eksternal yang terikat stimulus (Taylor et al., 1997). Orang dengan alexithymia memiliki gangguan kemampuan untuk membangun representasi mental dari emosi mereka. Sebagai dampaknya, mereka bisa jadi salah menafsirkan gejala fisik yang terkait dengan gairah emosional (yaitu,takikardia) atau tremor, dispnea) sebagai gejala penyakit somatik.

Pasien asma berisiko meningkat kerentanan terhadap perkembangan penyakit. Alexithymia dianggap sebagai faktor risiko untuk berbagai kondisi medis. Alexithymia mengubah pengenalan sensasi dan gejala, penilaian, pikiran, dan emosi terkait dengan alergi pernafasan. Pada pasien asthma, kehadiran alexithymia menyebabkan konsekuensi negatif yang lebih serius dan emosi, memengaruhi fisik, psikologis, dan aspek sosial kehidupan (Chugg et al., 2009). Literatur tentang hubungan antara alexithymia dan asma membantu mengidentifikasi beberapa alasan untuk manajemen penyakit yang tidak optimal.
Pasien asma dengan keterampilan pemecahan masalah yang efektif yang ditandai dengan mempertahankan penglihatan positif penyakit tanpa meminimalkan potensi bahayanya dan dengan menggunakan strategi kognitif aktif dan perilaku yang fleksibel dan beragam akan mengalami lebih sedikit morbiditas psikologis, perasaan kontrol pribadi yang lebih besar terhadap asthma, dan manajemen jangka panjang yang lebih baik dari penyakit (Barton et al., 2003).
Sebaliknya, penggunaan strategi penghindaran dikaitkan dengan tingkat pengendalian asma yang lebih rendah, dengan hasil klinis yang memburuk, dan dengan jumlah rawat inap yang lebih besar, tidak terjadwal. kunjungan perawatan kesehatan, dan episode asthma yang hampir fatal (Aalto et al., 2002) Pasien asthma dengan strategi pemecahan masalah yang tidak efektif cenderung memiliki asthma yang sulit untuk diobati. Wawancara mengenai perilaku yang harus diadopsi selama serangan asthma menunjukkan bahwa pasien yang dengan kepribadian rapuh cenderung tertunda hingga tujuh (7) hari sebelum mencari pertolongan medis (Miles et al., 1997) karena lebih terpaku kepada perasaan-perasaannya sendiri.

Depresi dan Kecemasan Pada Pasien Asma.
Risiko depresi akan jauh lebih buruk pada pasien asthma berat dibandingkan dengan pasien asthma yang tidak terlalu parah. Tingkat pengendalian asthma yang lebih rendah akan menjelaskan derajat gejala depresi yang lebih besar pada pasien asma berat. Orang dengan asthma berat menunjukkan lebih banyak gejala depresi dibandingkan dengan asthma ringan, Pasien dengan asma berat yang mendukung pengendalian asthma yang buruk berada pada risiko yang lebih tinggi. Morbiditas psikologis tampaknya dikaitkan dengan peningkatan keparahan asthma. Skrining rutin untuk depresi di antara pasien dengan asthma berat dapat menghasilkan peluang untuk menyesuaikan upaya manajemen asthma yang berpeluang meningkatkan manajemen dan pengendalian penyakit. (Goodwin et al., 2013).
Anak-anak dan remaja dengan gejala asma lebih mungkin menderita berbagai masalah kesehatan mental, dibandingkan dengan anak-anak yang sehat. Kemungkinan timbulnya masalah kesehatan mental tampaknya terkait erat dengan tingkat keparahan asma. Remaja dengan asma yang tidak terkontrol dan/atau lebih parah dan terus-menerus dapat dianggap sebagai kelompok yang memiliki kerentanan tinggi untuk masalah kesehatan mental. Penatalaksanaan asma pediatrik harus mencakup alat skrining dan intervensi konseling untuk mendeteksi, mencegah dan mengurangi risiko masalah kesehatan mental (Goodwin et al., 2013).
Akan tetapi, riset oleh Wamboldt et al. (1998) justru menunjukkan bahwa keparahan asma mungkin menjadi penyebab stres yang lebih menonjol bagi orang tua, yang pada gilirannya orang tua bakal melaporkan tingkat keparahan gejala anak yang lebih tinggi untuk anak-anak dengan asma berat. daripada keluhan yang dilaporkan oleh anak-anak itu sendiri. Uniknya, ditemukan dalam risetnya Wamboldt et. Al (1998) bahwa anak-anak dengan asma berat tidak menilai diri mereka sendiri memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi daripada mereka yang menderita asma ringan atau sedang atau dari norma standar. Pemeriksaan gejala mental dan aspek psikologis yang terkait dengan asthma sangat penting dalam menyusun rencana intervensi yang tepat untuk mengendalikan asma dengan lebih baik dan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien. (Baiardini, 2015).

Intervensi untuk penderita asma
Menurut Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (2018) intervensi perawatan asma disebut juga dengan manajemen asthma. Intervensi tersebut termasuk memonitor frekuensi dan keadaan napas, tanda dan gejala hipoksia, bunyi napas tambahan. Selain itu, intervensi terapeutik juga dilakukan dengan memberikan posisi semi fowler ( setengah duduk ) adalah posisi berbaring dengan menaikan kepala dan badan 30 – 45 derajat .
Psikoedukasi menjadi sangat penting di mana pasien dianjurkan meminimalkan kecemasan yang dapat meningkatkan kebutuhan oksigen, bernafas lambat dan dalam, dan mengidentifikasi dan menghindari pemicu. Asma perlu mendapatkan penanganan secara medis, namun juga membutuhkan intervensi lain yang dikembangkan untuk membantu penyembuhan dan pengendalian asthma. Intervensi yang dimaksud adalah penanganan yang bersifat psikologis, yang sangat berguna terutama bila penyebab penyakit tidaklah murni karena faktor biologis.
Intervensi untuk penderita asma bisa berupa relaksasi yang berpengaruh positif pada penghayatan ketidaknyamanan baik secara kronis maupun akut. Relaksasi sudah banyak terbukti membantu mengurangi frekuensi kekambuhan asma. Secara psikologis, penerimaan diri menjadi penting untuk penderita asma karena akan lebih mampu menyesuaikan kondisi emosional dengan realitas yang dihadapi, memiliki keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki, dan lain sebagainya (Anastri 2011). Menurut Nurviana et al. (2009), individu dengan penyakit kronis akan lebih mudah dalam menghadapi stres, sehingga menurunkan kekambuhan penyakit, ketika ia memiliki penerimaan diri.
Yorke et al. (2007) melakukan metaanalisis terkait intervensi psikologis berbagai macam aspek asma. Khusus untuk gejala asma (termasuk serangan dan kecemasan asma), terapi relaksasi, teknik bio-feedback, dan terapi kognitif perilaku. Menurut Smith dan Jones (2015), terapi relaksasi berisi meditasi, relaksasi progresif (membuat tensi dan relaksasi secara sistematis di bagian tubuh yang berbeda-beda, pelatihan autogenik (memperhatikan perasaan tubuh dan mengendalikannya secara mental) dan hipnosis (relaksasi mendalam yang disebabkan oleh pencitraan mental). Terapi ini membantu dengan cara membangkitkan proses menyadari bahwa kecemasan dan stres berperan dalam timbulnya dan dalam eksaserbasi gejala asma (kemunculan gejala secara tiba-tiba yang memburuk dalam waktu cepat). Metode relaksasi telah dicoba untuk mengurangi kepanikan dan ketakutan dan secara sadar menghasilkan keadaan rileks tubuh yang ditandai dengan pernapasan yang lebih lambat, tekanan darah rendah dan rasa tenang.
Teknik bio-feedback biasanya digunakan untuk mengatasi kecemasan dan stres. Teknik ini melibatkan pembelajaran pasien untuk mengenali dan memantau indikator biologis dan mengontrolnya menggunakan teknik relaksasi. Biofeedback diklasifikasikan sebagai intervensi perilaku ketika pasien yang sudah mampu mengenali dan mengendalikan serangan asma merupakan bukti penguatan perilaku positif pasien, sebaliknya, jika pasien gagal dalam menengenali dan mengendalikan asmanya, (Smith & Jones, 2015).
CBT (Cognitive Behavior Therapy) menggabungkan elemen inti dari model terapi perilaku dan kognitif. CBT menekankan pada pasien yang menyelesaikan masalah mereka dengan mengembangkan dan mempraktikkan strategi koping saat gejala asma muncul (Smith & Jones, 2005).
Sejumlah ahli, yaitu Put, C., Van den Bergh, O., Lemaigre, V., Demedts, M., & Verleden, G. (2003) mengajukan prosedur intervensi psikologis untuk penderita asma. Sebelum pasien yang bakal menjadi peserta program intervensi menandatangani informed consent, pasien menerima informasi tentang : (1) prosedur alokasi yaitu waktu partisipasi program; (2) konten yaitu program yang menyediakan informasi terkait asma, mengajarkan teknik untuk mengelola gejala dan gangguan terkait asma; (3) pentingnya input dari pasien sendiri seperti tugas pekerjaan rumah yang ditugaskan untuk diselesaikan di rumah. Di awal program, peserta mendapatkan buku kerja berisi informasi, latihan dan pekerjaan rumah yang disajikan secara jelas dan dapat dipahami.

Dalam program intervensi tersebut, terdapat 6 (enam) sesi, sebagai berikut :

  1. Psiko-edukasi. Pemberian edukasi mengenai asal, gejala, perjalanan dan terapi penyakit mereka, diidentifikasi dan informasi tentang patofisiologi asma, mekanisme pengobatan, faktor penyebab, dan sebagainya.
  2. Teknik perilaku. Teknik perilaku seperti pemantauan diri / observasi diri, kontrol stimulus, dan kontrol respons diajarkan kepada peserta saat sebelum maupun saat terjadi serangan asma.
  3. Pengamatan diri / pemantauan diri. Pasien mencatat di buku harian terkait keluhan asma, baik secara kualitatif, seperti deskripsi perasaan dan pikirannya, maupun secara kuantitatif, misalnya, perasaan kesal diwakilkan dengan skala 8 pada skala 0 hingga 10. Peserta juga mencatat secara rinci penggunaan obat, faktor penyebab spesifik, dan respons perilaku saat muncul serangan asma. Dengan cara ini peserta program terbantu untuk menangani asmanya dikaitkan dengan pemahaman anteseden (penyebab/pencetus) atau konsekuensi timbulnya serangan asma.
  4. Kontrol stimulus. Kontrol rangsangan mengacu pada perubahan perilaku anteseden, baik dengan menghilangkan rangsangan dengan pengaruh negatif (misalnya rangsangan lingkungan tertentu dalam kasus asma alergi) atau dengan memperkenalkan rangsangan yang tepat yang menimbulkan perilaku yang diinginkan (misalnya meletakkan obat di tempat yang terlihat).
  5. Kontrol respons. Kontrol respons memerlukan kontrol perilaku dari konsekuensi, atau pengaruh faktor-faktor yang memunculkan. Peserta belajar untuk memilih perilaku yang sesuai untuk menghindari atau meminimalkan pengaruh rangsangan, dengan mempertimbangkan perilaku, konsekuensi jangka panjang versus jangka pendek. Misalnya, pada satu waktu asupan obat dapat memiliki konsekuensi negatif jangka pendek (gangguan aktivitas) atau efek positif jangka panjang (eksaserbasi berkurang).
  6. Teknik kognitif. Teknik kognitif mengajarkan pasien untuk mengidentifikasi kognisi (pemikiran) negatif dan irasional mengenai terapi asma dan asma, dan pengaruhnya terhadap emosi dan perilaku. Melalui restrukturisasi kognitif, kognisi ini dipertanyakan dan dikoreksi.
Daftar Pustaka
Aalto, A. M., Härkäpää, K., Aro, A. R., & Rissanen, P. (2002). Ways of coping with asthma in everyday life: validation of the Asthma
Specific Coping Scale. Journal of psychosomatic research, 53(6), 1061-1069.

Anastri, R. (2011). Self Acceptance In Adolescence Who Have Parent Polygamy. ArtikelPsychology .

Asthma. (2020). Retrieved 4 February 2021, from https://www.who.int/news-room/factsheets/detail/asthma
Asthma: Testing and diagnosis. (2020). Retrieved 4 February 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases conditions/asthma/in-depth/asthma/art20045198

Baiardini, I., Sicuro, F., Balbi, F., Canonica, G. W., & Braido, F. (2015). Psychological aspects in asthma: do psychological factors affect asthma management?. Asthma research and practice, 1(1), 1-6.

Barton, C., Clarke, D., Sulaiman, N., & Abramson, M. (2003). Coping as a mediator of psychosocial impediments to optimal management and control of asthma. Respiratory medicine, 97(7), 747-761.

Berliano, Fajar, Kristianawati, Pengaruh Latihan Relaksasi Progresif Untuk Mencegah Kekambuhan Asma., Nursing Department, Faculty of Health Esa Unggul University¹·²https://digilib.esaunggul.ac.id /public/UEU-Undergraduate-1118 manuskrip.Image.Marked.pdf

Cahyani, A. R. (2013, Februari 15). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Hypersensitivetas Pada Sistem Respirasi Asma. Retrieved Mei 5, 2013, from http://rifaaprillia fkp11.web.unair.ac.id/artikel_detail-72729-Umum ASUHAN_KEPERAWATANPADA_KLIEN_
DENGAN_HYPERSENSITIVITAS_PADA_
SISTEM_RESPIRASI_ASMA.html

Chugg, K., Barton, C., Antic, R., & Crockett, A. (2009). The impact of alexithymia on asthma patient management and communication with health care providers: a pilot study. Journal of Asthma, 46(2), 126-129.

Cutetomatto. (2012, November 22). Pengaruh Psikologi Pada Penderita Asma. Retrieved April 20, 2013, from Pengaruh N. M. S. NOVIANA 20 Psikologi Pada Penderita http://artikelduniawanita.com/pengaruh-psikologi-pada- penderita-asma.html

GINA (Global Initiative for Astma)., 2009, Global strategy for asthma management and prevention, Global Initiative For Asthma.

Goodwin, R. D., Robinson, M., Sly, P. D., McKeague, I. W., Susser, E. S., Zubrick, S. R., ... & Mattes, E. (2013). Severity and persistence of asthma and mental health: a birth cohort study. Psychological medicine, 43(6).

Janssens, T., Verleden, G., De Peuter, S., Van Diest, I., & Van den Bergh, O. (2009). Inaccurate perception of asthma symptoms: a cognitive–affective framework and implications for asthma treatment. Clinical psychology review, 29(4), 317-327.

Kaplan, H.I, Sadock, B.J., Grebb, J.A (1994) Kaplan & Saddock’ Synopsis of Psychiatry : Behavioral Sciences Clinical Psychiatry. 7th ed. Baltimore: Williams & Wilkins.

Lurie, A., Marsala, C., Hartley, S., Bouchon-Meunier, B., & Dusser, D. (2007). Patients’ perception of asthma severity. Respiratory medicine, 101(10), 2145-2152.

Mayo Clinic. (2020). Asthma - Symptoms and causes. Retrieved 27 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/symptoms-causes/syc20369653

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma, dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1023/Menkes/SK/XI. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Miles, J., Garden, G., Tunnicliffe, W. S., Cayton, R. M., & Ayres, J. G. (1997). Psychological morbidity and coping skills in patients with brittle and non‐brittle asthma: a case‐ control study. Clinical & Experimental Allergy, 27(10), 1151-1159.

Neale, John M, Davison, Gerald C., Haaga, David A.F (1996). Exploring abnormal Psychology. New York : John Willey & Sons.

Nurviana, E. V., Siswati, & Dewi, K. S. (2012). Penerimaan Diri Pada Penderita epilepsy Put, C., Van den Bergh, O., Lemaigre, V., Demedts, M., & Verleden, G. (2003). Evaluation of an individualised asthma programme directed at behavioural change. European Respiratory Journal, 21(1), 109-115.

Rahajoe N, Kartasasmita CB, Supriyatno B, Setyanto DB (eds) (2015). Pedoman nasional asma anak. Edisi ke-2. Jakarta: UKK respirologi PP IDAI

Resti, Indriana Bil (2014). Teknik Relaksasi Otot Progresif Untuk Mengurangi Stres Pada Pederita Asma. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang.Vol. 02, No.01.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun 2018. Diakses: 27 Desember 2018 dari www.depkes.go.id

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (I). Jakarta. Retrieved from http://www.inna-ppni.or.id

Taylor, G. J., Bagby, R. M., & Parker, J. D. (1999). Disorders of affect regulation: Alexithymia in medical and psychiatric illness. Cambridge University Press.

Utami, N. M. S. N., & Widiasavitri, P. N. (2013). Hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan penerimaan diri individu yang mengalami asma. Jurnal Psikologi Udayana, 1(1), 12-21.

Wamboldt, M. Z., Fritz, G., Mansell, A., McQuaid, E. L., & Klein, R. B. (1998). Relationship of asthma severity and psychological problems in children. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 37(9), 943-950.v

Artikel Terkait